Dataran Tinggi Dieng memang menyimpan
segudang cerita yang mungkin belum diketahui masyarakat luas. Salah satu cerita
itu berasal dari sebuah dukuh atau dusun yang bernama Legetang.
Pada saat itu, Dukuh Legetang yang terletak di Desa
Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara, merupakan sebuah dukuh yang makmur.
Berbagai kesuksesan di bidang pertanian menghiasi kehidupan dukuh itu.
Toyib (71) warga Desa Kepakisan tetangga Desa Pekasiran,
mengatakan, ‘’dulu itu di sini dukuhnya memang makmur, subur, malah desanya
nggak makmur tapi salah satu dukuhnya malah makmur.’’
Namun, pada
17 April 1955, situasi berubah drastis setelah guyuran hujan lebat yang terjadi
selama berhari-hari. Sekitar pukul 23.00 WIB, muncul suara ‘buumm’ yang
terdengar hingga ke desa-desa tetangga, tetapi tidak diketahui dari mana
asalnya.
‘’Suara ‘guntur ’-nya (sebutan longsor di daerah setempat) itu sampai
terdengar ke rumah saya. Padahal, rumah saya Desa Kepakisan,’’ kisah Toyib yang
saat peristiwa itu berusia 11 tahun.
Lanjut Toyib, akan tetapi karena gelapnya malam dan hawa
dingin menusuk tulang, membuat warga yang mendengar suara mengejutkan itu tidak
berani keluar rumah untuk memeriksanya.
Baru esok
paginya diketahui, ternyata suara itu berasal dari longsoran lereng sisi
tenggara Gunung Pengamun-amun yang tepat menimpa Dukuh Legetang. Dari kejauhan
terlihat puncak Gunung Pengamun-amun sudah ‘rompal’ (Jw. Terbelah).
Bukan saja tertimpa tapi juga berubah menjadi sebuah
bukit yang mengubur seluruh dukuh beserta warganya. Dukuh Legetang yang tadinya
berupa lembah, kini berubah menjadi gundukan tanah menyerupai bukit.
Menyadari
peristiwa itu, sontak masyarakat di sekitar Dukuh Legetang terkejut. Kemudian
banyak yang berteriak ‘Legetang guntur !’, situasi
saat itu menjadi ramai dan membuat masyarakat berbondong-bondong untuk
melihat lokasi kejadian.
Sudah Diperingati
Menurut Toyib, sebenarnya tanda-tanda tanah longsor sudah
mulai terlihat sejak 70 hari sebelum kejadian. Sebelum bencana itu terjadi,
sudah terlihat keretakan di lereng Gunung Pengamun-amun.
Namun,
peringatan dini yang diberikan kepada warga Dukuh Legetang tidak diindahkan.
“Mereka suruh mengungsi tapi tidak mau, karena diperkirakan cuma longsor kecil.
Tapi karena tinggi dan berat tanah yang longsor, langsung menimpa semua.
Anehnya yang longsor cuma atasnya, bawahnya ‘nggak’ ikut longsor,” ungkap Toyib.
Setelah peristiwa itu, banyak masyarakat yang
menguhubungkannya dengan sikap warga Dukuh Legetang yang jauh dari kehidupan
beragama. Toyib menuturkan, memang dulu pengetahuan agama di Dukuh Legetang
masih sangat kurang.
‘’Walaupun dusun yang lain juga hampir sama, tapi Dukuh
Legetang sudah terlalu parah, terutama maksiat-maksiat masalah seks bebas,’’
kata Toyib.
Dari 351 korban jiwa, terdapat 19 orang yang berasal dari
luar Dukuh Legetang. Sementara itu, masih ada dua orang warga asli Legetang
yang selamat dari bencana tersebut.
‘’Yang hidup cuma disisakan dua sama Allah, itu
perempuan semua. Mungkin disisakan dua biar untuk sejarah keadaan desa sini,
tapi sekarang sudah meninggal,’’ imbuhnya.
Fadullah, Kepala Desa Pekasiran mengisahkan, beberapa
hari setelah kejadian itu, pemerintah setempat mendirikan sebuah tugu
peringatan yang digunakan sebagai bukti besarnya bencana pada tahun 1955 tersebut.
(Gunung Pengamun-Amun dan Tugu prasasti Legetang)
Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan.
Tugu beton 10 meter yang sudah lapuk dimakan usia itu masih berdiri tegak di
tengah ladang di desa Pekasiran di pegunungan Dieng Kecamatan Batur,
Banjarnegara.
“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG
SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG
PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955”
Pencarian terhadap korban kala itu hanya dipusatkan ke
titik yang diduga merupakan lokasi rumah bau (kepala dusun) Legetang bernama
Rana. Setelah dilakukan penggalian cukup lama oleh warga, tapi tak sedikit para
korban dibiarkan terkubur, karena amat sulit dievakuasi. Satu istri Rana
lainnya, bernama Kastari, satu-satunya warga Legetang yang selamat, karena ia
pergi dari rumah sebelum gunung itu longsor.

Legetang Masa Kini
(Menurut penduduk, ini adalah bongkahan puncak Pangamun-Amun
yang menimbun dusun Legetang)
Kini tanah lokasi bencana itu sedikit demi sedikit digarap warga
untuk budidaya tembakau dan sayur. Sekitar 1980, ketika kentang menggusur
tanaman tembakau dan jagung di pegunungan Dieng, bekas dusun pun berubah jadi
ladang kentang dan kobis, termasuk tanah kuburan umum milik bekas dusun tersebut.
(Area timbunan sudah menjadi persawahan dan kebun penduduk)
Kini suasana Dieng dan sekitarnya sangat semarak dengan nuansa
religius. Kehadiran potensi wisata disana tidak menyurutkan laju pertumbuhan
masjid, pesantren, serta kegiatan-kegiatan keIslaman subur berkembang. Bahkan
pengajian menjadi salah 1 program wajib desa/kelurahan, bukan hanya program di
mesjid/musholla.
(Semarak
masjid dan musholla di kawasan Dieng)
Cukup 1 legenda Legetang ini jadi hikmah buat kita semua. Jangan
sampai terulang ada Legetang lain-lainnya.
Sumber : http://diengsavanaindonesia.com/index.php/2015/10/09/legetang-dukuh-yang-hilang-dalam-semalam/
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=6&n=1&date=2016-02-19





Tidak ada komentar:
Posting Komentar